Do you need to take German course privately? Frau Sihombing unterrichtet Deutsch.

Please contact Ms Juita Sihombing 0856 9120 7788 and she will be there for you. (Jakarta, Indonesia)

Wednesday, 12 December 2012

Selamat Jalan, Bapak Haug!


Yang terkasih dalam Kristus: 

Bapak tidak bisa lagi membaca surat ini, bahkan tidak akan pernah bisa lagi. Saya sangat terkejut dan sedih ketika membaca email Ilona pada 11 Desember: Bapak sudah 3 tahun meninggal dunia. Saya langsung teringat perkataan Pdt. Em. Asworo Pireno, seorang pendeta yang dulu bertugas di gereja kami, GKI Seroja: "Kesempatan kita untuk mengasihi sesama manusia adalah hanya saat sesama kita itu masih hidup. Tidak ada artinya kita memperindah makam atau rajin mengunjungi makam sesama kita, namun semasa hidup sesama kita itu, kita tidak mengasihi mereka."

Saya sangat menyesal. Sebenarnya saya bisa saja mengunjungi Bapak pada liburan saya yang terakhir di Jerman. Tgl 2 Mei 2006 Bapak mengharapkan kedatangan saya, karena waktunya tepat. Begitu kata Ilona kepada saya dalam perjalanan kami dari Stuttgart ke Bodelshausen. Sayangnya menurut Ilona waktunya terlalu sempit. Ilona punya acara dengan kelompok remaja.

Tetapi tgl 3 Mei saya sepanjang hari ada di Stuttgart. Harusnya saya coba saja menelepon Bapak dan menanyakan apakah mungkin jika saya datang sekalipun bukan waktu yang tepat. Saya sudah memikirkan itu, tetapi saya tidak mencobanya. Penyesalan selalu datang terlambat. Sekarang saya menyesal sekali.

Saya sedikit terhibur karena saya menelepon Bapak tgl 4 Mei di stasiun utama Stuttgart sebelum saya melanjutkan perjalanan ke Greven dengan kereta. Dan tgl 11 Mei saya menelepon Bapak lagi. Waktu itu saya sudah di bandara Frankfurt, akan kembali pulang ke Indonesia. Tidak disangka itu telepon saya yang terakhir. Tidak disangka itu pembicaraan kita yang terakhir per telepon.

Saya menyesal tidak bisa mengusahakan agar lebih rajin menulis surat pada Bapak sebagai bentuk "mengasihi sesama selama mereka hidup". Baru bulan Oktober lalu saya sempat menulis surat pada Bapak. Tetapi kemudian saya ragu, apakah alamat Bapak masih tetap atau sudah berubah, karena kita sudah lama tidak berkorespondensi. Saya putuskan untuk mengecek terlebih dahulu. Hasilnya ternyata sungguh mengejutkan: sebuah berita dukacita.

Saya tidak bisa melupakan Bapak dan semua kebaikan Bapak, bagaimana Bapak dahulu telah banyak menolong saya selama saya menulis skripsi untuk menyelesaikan studi saya di UI. Saya senang mengingat kebaikan Bapak dan Ibu selama saya di Jerman. Semua kenang-kenangan dari Bapak masih saya simpan: 3 buah Alkitab, 25 buah kartu pos (banyak di antaranya bergambar kota-kota di Jerman), 26 pucuk surat, 2 buah buku, 2 buah majalah, 5 buah kartu Natal, sebuah kalung perak Pterodactylus dari Museum am Loewentor dan 6 buah buku berbahasa Indonesia.

Tgl 29 Oktober 2002 Bapak memberi saya uang jajan agar saya bisa lebih menikmati liburan saya di Jerman. Tetapi saya bawa uang itu pulang ke Indonesia dan saya belikan buku-buku. Kasirnya sempat menyangka saya seorang mahasiswi suatu Fakultas Teologi.:-) Buku-buku itu ialah 1 buku berjudul Lea, 2 jilid Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 3 jilid Menggali Isi Alkitab. Pasti dulu saya sudah menceritakan hal ini pada Bapak.

Yang terkasih Bpk Haug,

Saya tidak bisa lagi menulis surat pada Bapak. Bapak sama sekali sudah tiada. Tetapi di dalam Kristus oleh kemurahan Allah kita akan berjumpa lagi. Seperti tertulis dalam 1 Tesalonika 4: 14, 16-17:
Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia....dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa....
Teriring salam dalam kasih Kristus.


Saudara telah membaca teks ke 20.
Silakan baca teks 21: "durch", "ueber". Aduh, Yang Mana, Nih?"
Kembali ke teks 19: Kommst Du am Freitag mit ins Theater?

Goodbye, Mr Haug!


Dear Mr Haug,

You cannot read this letter anymore, you never can. I was so surprised and sad as I read Ilona's email on December 11th.: You already passed away 3 years ago. I just remembered what Emeritus Rev. Asworo Pireno, one of priests in our church, GKI Seroja, said: "We have the chance to love our neighbors only if they are still alive. It isn't worth, if we make the grave of one of our neighbors beautiful or often visit her or his grave; but as the person was alive, we just treated her or him badly."

I am very sorry. In my last visit in Germany I would have made time to visit you. On May 2nd. 2006, you would be happy to welcome me, because the time was suitable for you. Ilona told me that on our way from Stuttgart to Bodelshausen. Unfortunately the time was too short for Ilona since she had something to do with the teens group.

However, on May 3rd. I was for the whole day in Stuttgart. If I just had called you and asked whether you would fit me in, although it were not the suitable time anymore. I have thought about it, but I didn't try that. But repentance always comes later. Now I repent it.

It makes me feel better, since I have called you on May 4th. at the Stuttgart train station, before I continued my trip to Greven. And on May 11th. I have called you again. I was at the Frankfurt airport, would go back to Indonesia. It was in fact my last telephone call. It was in fact our last telephone conversation.

I am very sorry, I couldn't make it to often write you a letter as a way "to love neighbors as long as they are alive". Just in last October I could make it. Then I just remember to check your address first, because we haven't been corresponding for the last several time. Unfortunately the result was bad news.

I cannot forget you and your kindnesses, how you have helped me during the last step of my study at the UI. I like to think of your and your wife's kindly entertaining during my stay in Germany. I still keep everything from you: 3 Bibles, 25 post cards (many of them are cards of cities in Germany), 26 letters, 2 books, 2 magazines, 5 Christmas cards, a Pterodactylus silver necklace from Museum am Loewentor, and 6 in Indonesian written books.

On December 29th. 2002 you have given me pocket money, so that I would further enjoy my stay in Germany. But I took the money with me back to Indonesia and from that money I just bought books. The cashier thought if I were a student of a Faculty of Theology.:-) They are: a book about Lea, 2 books of Bible encyclopedia, 3 books of exegesis. I am sure I have written about it to you.

Dear Mr Haug,

I cannot write you a letter anymore. You are completely not there anymore. But in Christ thank God's mercy we will see each other as it stated in 1 Thessalonians 4: 14, 16-17:
We believe that Jesus died and rose again, and so we believe that God will take back with Jesus those who have died believing in him....Those who have died believing in Christ will rise to life first; then we who are living at that time will be gathered up along with them in the clouds to meet the Lord in the air....
 (NT in Today's English + NT in heutigem Deutsch, Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1984)
Warm regards in Christ' love.


You have read text 20.
Please read text 21: "durch", "ueber". Which Preposition Should I Choose?
Back to text 19: Kommst Du am Freitag mit ins Theater?

Monday, 26 November 2012

Kommst Du am Freitag mit ins Theater?


Das ist schon problematisch, wenn es tatsaechlich nicht stimmt, was die Regel vorher schon bestaetigt.

Immer wenn wir gerade ueber trennbare Verben sprechen, fragen mich meine Schuelerinnen und Schueler, warum der Satz so lautet:
Kommst du am Freitag mit ins Theater?
(studio d A1 Kurs- & Uebungsbuch, Einheit 5 Block 6)

Nach der Regel sollte der Satz eigentlich so lauten:
Kommst du am Freitag ins Theater mit?

Ich bin nicht Deutschmuttersprachlerin. Manchmal finde ich keine Antwort trotz der Loesungssuche zu einigen Grammatikproblemen, die waehrend meiner Unterrichten erscheinen. Daher bin ich froh, wenn mir die Deutschen helfen. Da ich immer gefragt wurde und ich fand es auch nicht schoen, dass das Kursbuch selbst keine Erlaeuterung gibt, dann meldete ich mich bei dem Verlag.

Also hier die Meinungen von zwei netten Expertinnen.

1. Frau Duden (nicht der richtige Name):
Sie haben recht die grammatischen Regeln besagen, dass Praefixe der trennbaren Verben am Satzende zu stehen haben. In der heutigen modernen Sprache hat sich die Tendenz entwickelt. Praefixe der trennbaren Verben naeher an das Verb zu stellen, wenn praepositionale Angaben folgen. Der Hintergrund fuer die Formulierungen in unseren Lehrwerken ist der, dass wir bemueht sind, die authentische Sprache abzubilden.

2. Frau Langenscheidt (nicht der richtige Name):
Der Satz Kommst du am Freitag mit ins Theater? ist richtig. Der Satz Kommst du am Freitag ins Theater mit? ist korrekt. In der Grammatik gibt es immer wieder Abweichungen von der Regel. Das macht es fuer Lernende nicht ganz einfach eine Sprache zu erlernen.


Sie haben den 19. Text gelesen.
Bitte lesen Sie den 20. Text: Auf Wiedersehen, Herr Haug!

Friday, 16 November 2012

Kommst Du am Freitag mit ins Theater?


Rasanya menjengkelkan jika pada kenyataannya sesuatu tidak sesuai dengan teorinya. Hal ini selalu terjadi saat kami membicarakan trennbare Verben (kata kerja yang dapat dipisahkan). Murid-murid saya bertanya mengapa awalan mit tidak diletakkan pada akhir kalimat dalam kalimat berikut:

Kommst du am Freitag mit ins Theater?
(Ikut / Mau ikut ke teater hari Jumat (nanti)? )

Trennbare Verben adalah kata kerja yang terdiri dari awalan / prefiks dan kata kerja dasar. Awalan harus diletakkan pada akhir kalimat, yang berarti dipisahkan dari kata kerja dasarnya.

Kata kerja dari contoh kalimat di atas adalah mitkommen, yang termasuk trennbare Verben. Mitkommen terdiri atas mit (awalan / prefiks) dan kommen (kata kerja dasar). Oleh karena itu mit harus diletakkan pada akhir kalimat. Maka kalimat itu berbunyi:

Kommst du am Freitag ins Theater mit?

Topik ini dibahas dalam buku kursus studio d A1 Unit 5, Bab 6.

Saya bukan penutur asli bahasa Jerman. Kadang saya tidak menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan yang timbul dalam proses belajar mengajar, sekalipun saya sudah mencari jawabannya dalam buku-buku pegangan saya. Oleh karena itu saya senang jika ditolong oleh penutur asli bahasa Jerman.

Karena saya selalu ditanya dan karena tidak ada penjelasan yang diberikan oleh buku kursus atas hal ini - dan ini tidak baik - maka saya menghubungi penerbitnya.

Berikut tanggapan dari 2 orang pakar yang telah berbaik hati menjawab pertanyaan saya:

1. Ibu Duden (bukan nama sebenarnya):
Anda benar, aturan gramatika menuntut awalan dari trennbare Verben diletakkan di akhir kalimat. Dalam bahasa modern sekarang ini ada kecenderungan untuk meletakkan prefiks lebih dekat dengan kata kerja dasar jika ada keterangan preposisi. Alasan pencantuman formulasi kalimat seperti ini ialah bahwa kami berusaha mendokumentasikan bahasa yang otentik.

2. Ibu Langenscheidt (bukan nama sebenarnya):
Kalimat Kommst du am Freitag mit ins Theater? betul. Kalimat Kommst du am Freitag ins Theater mit? benar. Dalam tata bahasa selalu ada penyimpangan dari aturan yang ada. Ini membuat tidak mudah bagi orang yang mempelajari sebuah bahasa.


Saudara telah membaca teks ke 19.
Silakan baca teks 20: Selamat Jalan, Bapak Haug!
Kembali ke teks 18: Bayi Ibu, Bukan Bayi Ayah :-)

Kommst Du am Freitag mit ins Theater?


It is problematic if the fact doesn't match the theory. This always happens if we just discuss trennbare Verben (separable verbs). My students asked me why the prefix mit isn't at the end of the sentence in this following sentence: 
Kommst du am Freitag mit ins Theater?
(Do you /Will you join to the theatre on Friday?)

Trennbare Verben are verbs which consist of prefix and basic verb. The prefix should be put at the end of the sentence. It is put separate from the basic verb.

The verb of the above-mentioned sentence is mitkommen. This verb belongs to trennbare Verben. Mitkommen consists of mit (the prefix) and kommen (the basic verb). Therefore mit should be put at the end of the sentence and the sentence should be:

Kommst du am Freitag ins Theater mit?

This topic is in the course book studio d A1, Unit 5, Chapter 6.

I am not German mother tongue speaking teacher. Sometimes I didn't find any answers to several questions which are raised during my classes, although I have tried to find them from my books. Therefore I am happy if the Germans help me. 

Since I was always asked and I found it not good of the course book because there is no explanation regarding this case, I just tried to contact the publisher.

Here the comments of two friendly experts:

1. Ms Duden (not the real name):
You are right, the grammar theory states that prefix of trennbare Verben is put at the end of the sentence. In this modern language there is a tendency, that the prefix is put nearer to the basic verb if there is a prepositional phrase. The reason of putting such sentences in our learning materials is that we try to document the authentic language.

2. Ms Langenscheidt (not the real name):
The sentence Kommst du am Freitag mit ins Theater? is right. The sentence Kommst du am Freitag ins Theater mit? is correct. In the grammar there is always anomaly from the theory. It makes not easy for learners to learn a language.


You have read text 19.
Please read text 20: Good Bye, Mr Haug!

Wednesday, 31 October 2012

Das ist Ihr Baby, Nicht Sein Baby :-)


Meine Schuelerin Dita (nicht der richtige Name) hat ihren ersten Sohn in Deutschland geboren. Sie musste damals das Baby in Deutschland gebaeren, weil sie gerade in Deutschland studierte. Ihr Mann Dion (nicht der richtige Name) lebte auch auf diesem Grund in Deutschland.

Beide machen bei mir den Kurs, da sie Deutsch einfach wieder lernen wollten. Sie haben schon lange Deutsch nicht mehr gesprochen.

Dita und Dion sind Batakleute. Der Batak oder Tapanuli Volksstamm kommt aus Nord Sumatera. Die Batakleute haben Familiennamen und Kinder tragen automatisch den Familiennamen ihres Vaters. Eine Batakfrau, die einen Batakmann heiratet, wird automatisch den Familiennamen ihres Mannes tragen. Ein Batakmann, der eine Batakfrau heiratet, haelt seinen Familiennamen.

Das war interessant. Als Dita das Baby gebar, fragte sie das Krankenhaus, ob sie dem Baby ihren Familiennamen gibt. Es hat Dita gewundert. Das war neu. Sie hat davon vorher gar nie gehoert. Als eine Batakfrau dachte sie automatisch, dass ihr Baby automatisch Dion's Familiennamen traegt.

Als Dion es hoerte, aergerte er sich drueber. Er erklaerte dem Krankenhaus, dass Batakleute automatisch den Familiennamen des Vaters tragen.

So, in Deutschland gehoert ein Baby der Mutter, nicht dem Vater. Die Mutter entscheidet sich, welchen Familiennamen ihr Baby tragen soll. Schoen :-)


Sie haben den 18. Text gelesen.
Bitte lesen Sie den 19. Text: Kommst Du am Freitag mit ins Theater?
Zurueck zum 17. Text: "ueber", "an...vorbei". Welche Praeposition Passt?

Bayi Ibu, Bukan Bayi Ayah :-)


Murid saya Dita (bukan nama sebenarnya) melahirkan putra pertamanya di Jerman. Ia harus melahirkan di Jerman karena pada waktu itu sedang studi di sana. Oleh karena itu suaminya, Dion (bukan nama sebenarnya), juga ikut tinggal di Jerman.

Keduanya kursus privat bahasa Jerman pada saya karena mereka ingin kembali belajar bahasa Jerman. Sudah lama mereka tidak lagi berbicara bahasa Jerman.

Dita dan Dion adalah orang Batak. Suku Batak atau Tapanuli berasal dari Sumatera Utara. Suku Tapanuli memiliki marga dan anak-anak otomatis memakai marga dari ayah mereka.

Seorang wanita Tapanuli yang menikahi pria Tapanuli otomatis akan memakai marga suaminya. Seorang pria Tapanuli yang menikahi seorang wanita Tapanuli tetap memakai marganya sendiri.

Ada peristiwa yang menarik. Ketika Dita melahirkan bayinya, pihak rumah sakit menanyakan rencana Dita untuk memberikan marganya sendiri kepada bayinya. Dita heran. Ini hal baru baginya. Sebelumnya ia tidak pernah tahu akan adanya pilihan memberi marga pada bayi. Sebagai seorang wanita Tapanuli ia otomatis berpikir bahwa bayinya otomatis memakai marga Dion.

Ketika Dion mendengar hal ini, ia marah. Ia menjelaskan pihak rumah sakit bahwa suku Batak / Tapanuli otomatis memakai marga dari ayah.

Ternyata di Jerman seorang bayi adalah milik ibunya, bukan ayahnya. Ibunyalah yang memutuskan marga yang akan dipakai sang bayi. Indah :-)


Saudara telah membaca teks ke 18.
Silakan baca teks 19: Kommst Du am Freitag mit ins Theater?