Do you need to take German course privately? Frau Sihombing unterrichtet Deutsch.

Please contact Ms Juita Sihombing 0856 9120 7788 and she will be there for you. (Jakarta, Indonesia)

Showing posts with label Pelajaran Bahasa Jerman. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran Bahasa Jerman. Show all posts

Tuesday, 27 June 2017

Gay, Bukan?




Pada suatu malam yang tenang di apartemen yang indah yang ditempati murid saya Krishna (bukan nama sebenarnya). Asisten rumah tangganya sedang memasak ketika kami mendiskusikan kata benda.

Pemuda yang berasal dari Hyderabad, India, ini membaca bukunya dengan seksama. Ia senang sekali dapat menemukan nama-nama benda yang ada dalam gambar dalam Bahasa Jerman. Benda-benda tersebut adalah benda yang biasanya ada di ruang kelas. Papan tulis, penghapus papan tulis, kertas, pensil, buku kursus, tas, dll..

Saya katakan kepada Krishna bahwa kata benda dalam Bahasa Jerman memiliki kata sandang dan huruf pertama dalam kata benda ditulis dengan huruf besar. Jadi: papan tulis = die Tafel, penghapus papan tulis = der Schwamm, kertas = das Papier, pensil = der Bleistift, buku kursus = das Kursbuch, tas = die Tasche, dst.. Dalam Bahasa Inggris hanya ada sebuah kata sandang dan tidak perlu ditulis dalam huruf besar. Demikian:  the board, the sponge, the paper, the pencil, the course book, the bag, dst..

Krishna mengangguk tanda mengerti. Dia senang dengan Bahasa Jerman sebab ia mempunyai sahabat baik di Swiss, yang sudah seperti saudara perempuan baginya. Krishna juga mempunyai kenangan manis dengan seorang gadis Swiss yang baik hati di sebuah terowongan. Gadis itu telah menolong Krishna dalam menemukan jalan. :-) Waktu itu mereka berada di Stasiun Kereta Schaffhausen. Ya, Krishna pernah tersesat sewaktu ia hendak ke Aarau, ibukota Negara Bagian Aargau di Swiss. Oleh karena itu ia berpikir bahwa akan hebat rasanya jika ia bisa berbahasa Jerman. :-)

Aarau Tampak dari Luar Kota
Kemudian Krishna harus latihan membaca semua kata benda termasuk kata sandangnya. Sebelumnya ia mendengarkan rekaman terlebih dahulu, lalu menirukannya. Dalam Bahasa Jerman ada tekanan kata. Krishna harus menandai suku kata yang mendapat tekanan.

Saya minta Krishna agar mengingat bahwa semua kata sandang asli dari kata benda berada dalam kasus nominatif. Nominatif adalah salah satu jenis kasus dalam Tata Bahasa Jerman. Kata sandang dari kata benda dapat berubah jika kata benda itu berada dalam kasus lainnya seperti akusatif, datif dan genitif. Oleh karena itu ia harus berhati-hati.

Krishna mengangguk sebagai tanda mengerti.

Selanjutnya saya meminta dia kembali memperhatikan kata sandang dari kata benda, sebab ini berhubungan dengan kasus-kasus. Saya katakan kepadanya bahwa dalam Bahasa Jerman ada 3 jenis kelamin untuk kata benda. Krishna terkejut. :-) Saya sebutkan jenis kelamin tersebut: feminin, maskulin, ... . Lalu saya bertanya kepadanya, “Tahu yang ketiga?” Si insinyur listrik ini menjawab dengan ragu-ragu, “Is it a gay?” :-) (Kursus memakai Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar)

Bukan Krishna. Jawaban yang benar ialah netral. :-)

Kata sandang untuk kata benda feminin: die, maskulin: der, netral: das. Semuanya dalam kasus nominatif

Dalam kasus akusatif kata sandangnya berubah menjadi: die (feminin), den (maskulin), das (netral). 

Dalam kasus datif menjadi: der (feminin), dem (maskulin), dem (netral). 

Dalam kasus genitif berubah menjadi: der (feminin), des (maskulin), des (netral). 


Jadi, dari contoh di atas berarti: tas dan papan tulis merupakan kata benda feminin, pensil dan penghapus papan tulis merupakan kata benda maskulin, buku kursus dan kertas merupakan kata benda netral.

Wah, ternyata sang asisten rumah tangga sudah selesai memasak dan makan malam untuk Krishna sudah siap. Tetapi dia harus menunggu sampai les Bahasa Jerman selesai dan saya pulang. :-)



Saudara telah membaca teks ke 47.
Silakan baca teks 48: Harusnya Bella Tahu, dong

Friday, 11 March 2016

Sepertinya Akan Ada Badai




Dialog ini saya temukan di sebuah buku kursus:
Orang A: Ich glaube, es kommt ein Sturm. (Menurut saya akan ada badai)
Orang B: Ach, das glaube ich nicht. Es bleibt schön. (Ah, saya rasa tidak. Cuaca tetap bagus)

Dialog ini terdapat dalam sebuah gambar, tidak ada hubungan dengan tema yang dibahas dalam bab buku itu. Oleh karena itu tidak ada penjelasan lebih lanjut. Di gambar itu terdapat percakapan antara 2 orang seperti tertera di atas.

Kalimat “Es kommt ein Sturm” ini menarik. Tidak jelas yang mana subyek kalimat itu: es atau ein Sturm. Keduanya mungkin. Tetapi konsekuensinya muncul banyak pertanyaan.

Jika subyeknya “es” , maka haruslah “ein Sturm” dalam Akkusativ; benar, kan? Maka haruslah kalimatnya berbunyi” Es kommt einen Sturm. Kata benda “Sturm” berjenis maskulin.

Jika subyeknya “ein Sturm”, mengapa harus ada “es” lagi? Tentunya bisa langsung dibuat kalimat “Ein Sturm kommt”; benar, kan?

Kata ganti “es” memang dipakai khusus untuk menggambarkan cuaca. Tetapi, sepengetahuan saya, kata ganti es khusus cuaca ini selalu dalam kasus Nominativ: es schneit (sedang turun salju), es regnet (sedang hujan), es ist kalt (cuaca dingin), es ist bewölkt (cuaca berawan), es ist sonnig (cuaca cerah), es ist heiss (cuaca panas), es ist windig (cuaca berangin).

Saya menyimpulkan bahwa subyeknya adalah ein Sturm, lalu saya bertanya pada teman-teman saya di Jerman (saya menganggap mereka semua teman), mengapa “Es kommt ein Sturm”, bukan “Ein Sturm kommt” ?

Teman-teman saya di Jerman memberi komentar:


Marita di Hanstedt

Oh, oh, kamu menanyakan hal-hal yang tidak pernah saya kuatirkan.
Keduanya bisa! Kami orang Jerman bilang begini atau begitu, seperti apa yang sedang terpikir saja oleh kami.
Sangat sedikit dari kami yang kuliah Bahasa Jerman. :) :)

Sayangnya saya benar-benar tidak bisa menolongmu. Yang jelas keduanya bisa saja.

Saturday, 13 June 2015

Bunyi Paduan “Umlaut”. Sudah Benar, Koq Disalahkan?




Seperti ditampar wajah saya rasanya, saat seorang Jerman menyalahkan saya karena menulis huruf Umlaut dengan 2 huruf vokal. Bunyi Umlaut dalam Bahasa Jerman merupakan paduan dari 2 buah vokal yang ditulis cukup dengan 1 buah huruf vokal ditambah 2 buah titik di atasnya. ä, ö, ü adalah bunyi-bunyi Umlaut dan jika tidak ada huruf Umlaut maka harus ditulis demikian: ae untuk ä, oe untuk ö, ue untuk ü. Huruf-huruf ini tentunya tercetak di papan ketik pada mesin tik dan komputer di Negara asalnya. Di papan ketik mesin tik dan komputer di Indonesia sampai saat ini belum ada.

Berikut cuplikan email orang Jerman tersebut dalam Bahasa Indonesia karena ybs. bisa berbahasa Indonesia:
“...Yang juga tidak boleh: Privatlehrerin fuer Deutsch. Seharusnya Privatlehrerin für Deutsch. Kenapa tidak menulis Umlaut: ä, ü, ö. Papan ketik saya juga tidak punya Umlaut karena dibeli di Amerika, tetapi kan gampang sekali diketik.“

Saya sudah belajar Bahasa Jerman sejak SMA sampai ke universitas, sangat jelas diajarkan: jika tidak ada huruf Umlaut, maka bunyi Umlaut tersebut harus ditulis dengan 2 buah huruf vokal. Jika tidak, bunyi itu salah, bisa menyesatkan. Bagaimana bisa membedakan contoh kata-kata berikut: zählen dan zahlen, schön dan schon, drücken dan drucken? Ini pertama kali dalam hidup saya ada orang Jerman yang menyalahkan saya karena menulis bunyi Umlaut dengan 2 buah huruf vokal.

Friday, 28 February 2014

Orang Ngerti, Koq!


"Saudara lihat, kan; masalah preposisi merupakan masalah yang ribet. Apakah menurut Saudara murid-murid harus mengatasi kesulitan tersebut secara terperinci? Menurut saya mereka boleh melakukan kesalahan. Tentu orang akan mengerti mereka!" Itulah pertanyaan Ibu Engelhardt ketika menjelaskan tentang preposisi yang saya tanyakan.

Kita, orang Indonesia yang belajar Bahasa Jerman, kadang mengalami kesulitan untuk memilih preposisi dalam menyusun kalimat. Sebuah kata (tidak harus selalu preposisi) dalam Bahasa Indonesia dapat saja "diwakili" oleh lebih dari satu preposisi dalam Bahasa Jerman. Contoh: kata "melewati" dalam kalimat "Anak-anak melewati taman." Untuk kata "melewati" dapat digunakan preposisi berikut: "durch", "ueber", "an...vorbei" karena preposisi tersebut memiliki makna "melewati".

Sekarang kita coba buat kalimat dalam Bahasa Jerman dari contoh tersebut di atas. Anak-anak dalam Bahasa Jerman Kinder, taman bisa Park atau Garten.

Maka:
1. Die Kinder gehen durch den Park.
2. Die Kinder gehen ueber den Park.
3. Die Kinder gehen am Park vorbei.

Saturday, 11 January 2014

Jalan Terus Saja!


"Fahr mal weiter!" (= Lanjutkan saja menyetir!) selalu dikatakan Antje kepada Paman Heinz, karena kami tidak menemukan tempat yang kami cari. Saya, Antje, bibinya Doris dan pamannya Heinz berada di dalam mobil Heinz. Heinz yang menyetir. Kami sedang berada di P. Ruegen pada Juni 1996 dalam rangka ulang tahun Margret. Margret, ibunda Antje dan Peter, ayahanda Antje naik mobil mereka sendiri di belakang kami. Tiene, kakak ipar Antje dan putra-putranya Daniel dan Carl tinggal di hotel, sementara Clemens, abang Antje, ayah anak-anak tersebut masih di Indonesia.

Heinz menghentikan mobil, lalu kami melihat dari jendela, lalu kata Antje, "Bukan ini. Jalan terus saja!" Ini terjadi beberapa kali. Saya sudah tidak ingat lagi apa yang kami cari pada waktu itu.:-(

"Fahr mal weiter!" adalah sebuah bentuk imperatif untuk orang kedua tunggal. Namun saya menjadi terkejut ketika sedang menyiapkan pelajaran. Dalam buku studio d A1 Deutsch als Fremdsprache,  Kurs- und Uebungsbuch (Berlin: Cornelsen, 2006) pada hlm 195 disebutkan aturan tata bahasa:

Imperatif = orang kedua tunggal (konjugasi indikatif) dikurangi st

Buku tersebut memberi contoh:
Orang kedua tunggal (konjugasi indikatif): du nimmst, du gehst
maka bentuk imperatifnya: Nimm eine Tablette! Geh zum Arzt!

Saya langsung teringat kalimat Antje "Fahr mal weiter!". Aturan tata bahasa di buku studio d tidak tepat. Seandainya tepat tentu Antje akan berkata "Faehr mal weiter!" sebab faehrst - st = faehr. Tetapi Antje tidak mengatakan itu. Yang Antje katakan ialah "Fahr mal weiter!".

Aturan tata bahasa yang benar adalah seperti yang sudah dijelaskan pada kami oleh guru Bahasa Jerman kami yang orang Indonesia ketika kami masih duduk di SMA:

Imperatif untuk orang kedua tunggal = der Stamm (= akar kata)

Tetapi seperti biasa, ada pengecualian di samping suatu aturan Tata Bahasa Jerman. ;-) Inilah pengecualiannya: untuk kata kerja yang mengalami perubahan vokal dalam konjugasi indikatif, maka akan mengalami perubahan vokal juga dalam konjugasi imperatif.

Thursday, 19 December 2013

Coburg, Sebuah Kota Kecil di Jerman


Foto itu terletak di atas meja kecil di pojok. Saya dan Nicole berdiri di depan pesawat yang kami sewa dari pk. 14:00 - 14:30 tgl 29 Mei 2004. Kami terbang dengan pesawat tersebut di atas Coburg dan sekitarnya. Harga sewa 25 Euro / orang / penerbangan. Pesawat itu bukan Boeing, bukan juga Airbus. ;-) Hanya sebuah pesawat kecil yang hanya bisa memuat maximal 4 orang. Kami cuma bertiga dengan pilot yang ramah, yang sesudahnya memotret kami. :-)

Saya duduk di depan di samping sang pilot. Ketika kami di atas Rauenstein, kami dapat melihat rumah orang tua Nicole. Di pekarangannya beberapa bebek sedang berjalan dan kelinci-kelinci sedang bermain.

Awalnya kami ingin mengunjungi puri. Kami sudah berada di dekat puri, tetapi kami berubah pikiran saat melihat tawaran rekreasi dengan pesawat terbang. :-)

Ya, Coburg sebuah kota kecil. Tetapi di sana terdapat hal-hal yang barangkali belum tentu bisa ditemukan di setiap kota kecil, bahkan di setiap kota besar. Rekreasi dengan pesawat terbang ini, yang dapat membuat senang tiap orang. Juga toko Asia, tempat kami dapat membeli beberapa bahan makanan khas Indonesia, sehingga di rumah kami dapat memasak makanan Indonesia. Toko Asia itu jarang. Beberapa tahun sebelumnya saya dan Marita harus pergi ke Winsen dulu untuk mendapatkan toko Asia, sementara Marita tinggal di Salzhausen.

Malam hari sudah ramai di kedai minum berkat adanya konser. Di Coburg saya melihat sebuah gedung yang mewah, kelihatannya gedung itu merupakan kantor perusahaan Kaeser. Saya takjub dan bertanya-tanya dalam hati mungkinkah perusahaan tersebut merupakan kantor pusat dari perusahaan Kaeser yang pernah saya temukan di Jakarta. Saya berada di Coburg dari 27 - 30 Mei 2004. Kesan saya tentang kota ini tenang, sepi dan bersih.

Itulah kisah singkat dari kota kecil Coburg. :-)

Baru-baru ini saya membaca sebuah teks ketika saya sedang mempersiapkan bahan pelajaran. Dari teks tersebut saya menemukan kata Kleinstadt. Saya langsung berpikir apakah perbedaan dari istilah eine kleine Stadt dan eine Kleinstadt. Apakah Coburg eine kleine Stadt atau eine Kleinstadt? Kapan saya dapat menggunakan istilah "eine kleine Stadt" dan kapan saya harus memakai istilah "eine Kleinstadt"? Klein, yang berarti kecil, dalam "eine kleine Stadt" merupakan adjektif. Sementara klein dalam "eine Kleinstadt" sudah diintegrasikan dengan kata Stadt, yang berarti kota, membentuk sebuah kata benda.

Saya segera menghubungi teman-teman saya. Saya anggap saja semua teman. :-)

Heike di Duesseldorf:
Baiklah, sekarang pertanyaan: Jadi istilah Kleinstadt merujuk pada jumlah penduduk mulai dari minimum 5000 sampai maximum 20.000 orang. Eine kleine Stadt menggambarkan luasnya bidang yang dapat diukur / besarnya sebuah kota. Bisa juga dipakai istilah Dorf (=desa) atau cukup katakan: das ist eine kleine Stadt. Sulit memang, tetapi saya juga tidak bisa menerangkan dengan cara lain! Jadi bisa dipakai keduanya!
Marita di Hanstedt:
Manisku, engkau sangat pintar dan banyak belajar. ... Eine kleine Stadt selalu berarti eine Kleinstadt. Tetapi eine grosse Stadt tidak selalu berarti eine Grossstadt. Grossstadt merupakan sebuah istilah yang ditetapkan untuk kota-kota mulai dari jumlah tertentu dari jumlah penduduknya. Saya harap ini menolongmu.
Sabine di Muenchen:
Tentang pertanyaanmu: "Coburg eine kleine Stadt atau Coburg eine Kleinstadt?" - Bisa disebut keduanya. "Kleinstadt" barangkali merujuk lebih kuat pada jumlah penduduk yang dibatasi dan merupakan sebuah istilah, yaitu lawan kata Grossstadt.
(Sabine juga memberi link ke wikipedia kepada saya sehubungan istilah "Kleinstadt". Menurut wikipedia Kleinstadt ialah sebuah istilah untuk klasifikasi sebuah kota menurut penduduknya dan fungsinya, secara umum di bawah kira-kira 20.000, regional, tetapi juga dengan definisi lain.)
Nicole di Hamburg:
Tentang pertanyaanmu dulu: Kleinstadt dan kleine Stadt sebenarnya sama saja. Dalam hal ini Kleinstadt lebih sering digunakan.
Selanjutnya, blogmu sangat menarik dan kadang-kadang saya baca. Menarik sekali membaca problem bahasa atau pertanyaan kalian dan memikirkannya. Karena saya sendiri belajar bahasa Spanyol, jadi saya bisa menghayati sangat banyak dari hal itu. Seorang teman dari Spanyol belajar bahasa Jerman, kami juga berkorespondensi secara teratur dan dia memiliki pertanyaan / masalah yang hampir sama seperti kalian. Lucu. :-)
Demikianlah. Jadi, Coburg adalah eine kleine Stadt dan Coburg adalah juga eine Kleinstadt. (Selama jumlah penduduknya masih di bawah 20.000 orang. ;-) )


Saudara telah membaca teks ke 33.
Silakan baca teks 34: Jalan Terus Saja!
Kembali ke teks 32: Tujuh Setengah Jam. Apa Bahasa Jermannya?

Saturday, 30 November 2013

Tujuh Setengah Jam. Apa Bahasa Jermannya?


Saya tidak pernah memperhatikan bagaimana saya harus menyebut 7 1/2 jam dalam Bahasa Jerman. Saya tahu bagaimana mengucapkan 1/2 jam dalam Bahasa Jerman: eine halbe Stunde. Bagaimana mengatakan 1 1/2 jam dalam Bahasa Jerman? Jawabannya: anderthalb Stunden sesuai kamus Woerterbuch der Deutschen Sprache (Muenchen: dtv, 1987). (Sebenarnya ini membingungkan karena tidak ada deklinasi. Menurut saya seharusnya "anderthalbe Stunden". Ya, begitulah.) Tetapi 7 1/2 jam dalam Bahasa Jerman apa ya? Hmm, saya tidak pernah berpikir panjang, langsung saja sebut: sieben halbe Stunden. :-)

Karena saya sekarang mengajar Bahasa Jerman, maka sebisa mungkin semua harus benar sesuai dengan Tata Bahasa Jerman. Sayangnya tiga buah kamus saya (Heuken, Krause, Wahrig) tidak dapat menolong saya. Dari entri "halb" (artinya setengah dalam Bahasa Indonesia) dan entri "setengah" hasil pelacakan saya dalam kamus-kamus tersebut hampir tidak ada contoh dengan posisi kata "halb" di belakang. 7 1/2 : setengah (= halb) terletak di belakang tujuh. Kebanyakan kata "halb" berada di depan. Saya kutip beberapa contoh: halb drei, eine und eine halbe Stunde (apa ini? 1 1/2?), ein halbes Kilo, halbherzig, Halbzeit, auf halbem Wege, eine Halbe, halb so schlimm, dst.. Satu-satunya contoh dengan posisi "halb" di belakang yaitu: er schlief noch halb. :-( Sayang, contoh tersebut bukan jawaban atas masalah saya. :-(

Oleh karena kamus tidak berfungsi, maka saya harus segera berkonsultasi dengan penutur asli. Teman-teman inilah yang merespon saya. Saya anggap saja semua teman. :-)

Tina di Grevenbroich
siebeneinhalb = 7,5
Anderthalb = 1,5

Marita di Hanstedt
jika engkau membaca atau berbicara tentang 7,5 jam (km, kg,...), itu akan selalu berarti 7 keseluruhan dan setengah jam (km,...). Seperti yang engkau sebut sebelumnya "sieben halbe", itu salah. Sieben halbe Stunden berarti hanya 3 keseluruhan dan setengah jam. Kami menyebutnya (7,5) seperti ini: siebeneinhalb Stunden atau km, ya, seperti yang sebenarnya engkau maksud: 7 keseluruhan dan setengah jam. Sayangku, semoga saya dapat menolongmu.

Nicole di Hamburg
Engkau benar, itu seharusnya dibaca 7 einhalb Stunden. Lebih baik lagi sieben Stunden und 30 Minuten, jika engkau ingin benar-benar tepat. Dan halb drei maksudnya ialah pk 14:30 sampai pk 2:30.
Pengucapan waktu tidak di seluruh Jerman dengan cara yang sama. Di Selatan kami katakan sebagai contoh viertel drei (= 14:15) dan dreiviertel vier (= 15:45), tetapi berbeda dengan di Utara viertel nach zwei (= 14:15)  dan viertel vor vier (= 15:45). Mengapa demikian, saya memang tidak dapat menjelaskannya padamu; tetapi jika saya berkata pada seseorang di sini di Hamburg, "es ist viertel zwei", maka ia akan mengira "viertel nach zwei". ...aneh, tetapi begitulah. :-)
Demikianlah, bukan "sieben halbe Stunden", tetapi yang benar ialah siebeneinhalb Stunden.  Oleh karena itu juga anderthalb Stunden sudah benar tanpa deklinasi.:-) Mengapa demikian? Berarti saya harus menulis artikel baru tentang hal ini di blog ini.;-)

Menarik sekali dengan informasi baru bagaimana orang di Jerman bagian Selatan mengungkapkan waktu. Yang kami pelajari di universitas (Jurusan Jerman, Fakultas Sastra Universitas Indonesia) adalah Bahasa Jerman standar yang disebut Hochdeutsch. Menurut ilmu pengetahuan Hochdeutsch ini berasal dari orang-orang Jerman bagian Utara.


Saudara telah membaca teks ke 32.
Silakan baca teks 33: Coburg, Sebuah Kota Kecil di Jerman
Kembali ke teks 31: Rumah Presiden dalam Kasus Genitif dan Akusatif: Ribet, eui!

Wednesday, 20 November 2013

Rumah Presiden dalam Kasus Genitif dan Akusatif: Ribet, eui!


Awalnya mudah membentuk kalimat yang menggunakan kata sandang akusatif:

1. dengan kata sandang tertentu:
Ich finde den Balkon zu klein. (den Balkon: maskulin, singular)
Ich finde das Haus teuer. (das Haus: netral, singular)
Ich finde die Toilette zu dunkel. (die Toilette: feminin, singular)

2. dengan kata sandang tak tentu:
Das Haus von Alex und Shinta hat einen Garten. (einen Garten: maskulin, singular)
Das Haus von Alex und Shinta hat ein Arbeitszimmer. (ein Arbeitszimmer: netral, singular)
Das Haus von Alex und Shinta hat eine Garage. (eine Garage: feminin, singular)

3. dengan kata sandang kalimat negatif "kein":
Das Haus von Ryan und Puri hat keinen Garten. (keinen Garten: maskulin, singular)
Das Haus von Ryan und Puri hat kein Arbeitszimmer. (kein Arbeitszimmer: netral, singular)
Das Haus von Ryan und Puri hat keine Garage. (keine Garage: feminin, singular)

Murid saya Steffi (bukan nama sebenarnya), yang bekerja sebagai asisten dosen pada sebuah universitas swasta di Karawaci, dapat membuat beberapa kalimat selanjutnya dari contoh yang sudah ada. Namun masalah muncul ketika genitif ada di dalamnya. Contoh: Praesidents Haus (rumah presiden), Nathans Haus (rumah Nathan).

Bagaimana membentuk deklinasi akusatifnya? Di mana letak kata sandang Haus "das"? Manakah kalimat yang benar dari antara kalimat-kalimat berikut:...?

1. Praesidents Haus (kata benda dalam genitif dengan s):
a) Wie findest du das Praesidents Haus?
b) Wie findest du Praesidents Haus?

2. Nathans Haus (nama orang dalam genitif dengan s):
c) Wie findest du das Nathans Haus?
d) Wie findest du Nathans Haus?

Menurut Steffi kalimat yang benar adalah b) dan d) sesuai dengan Tata Bahasa Inggris. Seharusnya sama benarnya dengan Tata Bahasa Jerman. :-)

Teman-teman saya di Jerman mengemukakan pendapat mereka. Saya anggap saja semua teman. :-)

Achim di Esslingen:
Menurut saya benar-benar bagus yang kamu kerjakan... memberi les Bahasa Jerman. Untuk pertanyaanmu yang kedua: d) jawaban yang benar. Untuk pertanyaan yang pertama: tak seorangpun yang akan mengatakan a) maupun b); kami cenderung mengatakan: Wie findest du das Haus des Praesidenten? Atau: Wie findest du das Praesidentenhaus?
Nicole di Hamburg:
Praesidents Haus: di sini pertanyaannya apakah Praesidents Haus sebuah nama diri (nama gedung) atau maksudmu rumah yang dimiliki presiden? Jika yang dimaksud nama diri, maka pertanyaannya: Wie findest du das Praesidents-Haus? Jika yang dimaksud rumah yang dimiliki presiden, saya cenderung membentuk kalimat tanyanya seperti berikut: Wie findest du das Praesidentenhaus? atau: Wie findest du das Haus des Praesidenten?
Nathans Haus: juga pada kalimat ini tergantung, apakah maksudnya rumah yang dimiliki Nathan atau Nathans Haus sebagai nama diri (nama gedung). Kalimat d) yang benar, selama maksudnya adalah rumah yang dimiliki Nathan (seorang teman atau seseorang yang nyata).
Yang Steffi maksud ialah rumah yang dimiliki oleh presiden dan rumah yang dimiliki seorang teman. Jadi, Steffi, dengan demikian kalimat berikut yang benar:
1. Wie findest du das Haus des Praesidenten? atau: Wie findest du das Praesidentenhaus?
2.  Wie findest du Nathans Haus?

Ya, kalau begitu, dalam hal ini terpaksa harus dijelaskan secara singkat tentang kasus genitif. Sebenarnya terlalu dini untuk Steffi. Dia masih tingkat A1, baru belajar kasus akusatif di Bab 4 dari buku kursus studio d Deutsch als Fremdsprache. Kasus genitif (das Haus des Praesidenten) baru dipelajari di tingkat A2, sesuai buku kursus studio d Deutsch als Fremdsprache, Bab 11. Masih jauh! :-)

Kasus genitif (Nathans Haus) memang tidak berbelit-belit, namun itu juga baru dipelajari di tingkat A2, sesuai buku kursus studio d Deutsch als Fremdsprache, Bab 2. (Berlin: Cornelsen, 2006)


Saudara telah membaca teks ke 31.
Silakan baca teks 32: Tujuh Setengah Jam. Apa Bahasa Jermannya?
Kembali ke teks 30: Apa Bahasa Jermannya?



Wednesday, 11 September 2013

Aku Nebeng Abraham


Murid-murid saya dan saya sedang berada di halaman parkir. Kami mau pulang karena les Bahasa Jerman telah usai. Mobil saya parkir di sebelah mobil Abraham. Saat saya akan masuk ke dalam mobil, saya mendengar yang dikatakan Lukas (bukan nama sebenarnya) ketika ia naik ke dalam mobil Abraham, "Ich fahre bei Abraham." (Maksud Lukas ia menumpang mobil Abraham) Saya hanya tersenyum.

Sebelumnya di kelas saya sudah menjelaskan pada murid-murid, bahwa preposisi bei juga mempunyai makna, bahwa seseorang diurus atau ditolong orang lain. Contoh: "Ich lebe bei* meinen Eltern." (Saya hidup (menumpang) pada orangtua saya) Kalimat ini dikatakan orang jika orang secara finansial tidak dapat hidup mandiri, oleh karena itu hidup dengan / pada orangtuanya.

(* Preposisi bei sendiri berarti "pada", namun belum tentu terasa enak jika diterjemahkan "pada" dalam Bahasa Indonesia, kadang diterjemahkan "dengan". Sementara "dengan" dalam Bahasa Jerman adalah "mit" yang juga sebuah preposisi. Tetapi kalimat "Ich lebe mit meinen Eltern" sudah bermakna lain.)

Lukas kreatif sekali. Bisa-bisanya dia mendapat ide untuk membentuk kalimat tersebut. Mobil itu bukan miliknya, melainkan milik Abraham yang disetir oleh sopirnya. Namun Lukas boleh ikut naik mobil Abraham. Abraham baik sudah mengajak Lukas. Saya senang karena Lukas kreatif, tetapi saya tidak yakin apakah penggunaan preposisi bei dalam kalimat tersebut benar.

Berikut komentar teman-teman saya di Jerman. Saya anggap saja semua teman. :-)

Ulli di Hamburg
Lukas ingin mengatakan, bahwa ia pergi naik mobil (bersama) dengan Abraham. Tetapi itu berarti: Lukas faehrt bei Abraham mit im Auto. Kamu lihat perbedaannya?
(Maksud Ulli adalah penggunaan preposisi tambahan mit sehingga kalimatnya bisa berarti bahwa "Lukas menumpang mobil Abraham atau nebeng (bahasa sehari-hari)".)

Ibu Engelhardt di Karlsruhe
Sekarang saya mau menjawab pertanyaan Anda tentang gramatika. "Ich fahre bei Abraham" tidak bisa dikatakan. Yang benar ialah: "Ich fahre mit Abraham", atau "Ich fahre bei Abraham mit." Keduanya bisa, yang kedua pastinya terdengar agak aneh di telinga Anda, tetapi kalimat itu bisa. Bagus ya, murid Anda kreatif!
Ilona di Bodelshausen
Lukas harusnya mengatakan: "Ich fahre bei Abraham mit." Kalimat ini dapat dikatakan jika Abraham yang menyetir atau ia punya sopir; tetapi "Ich fahre mit Abraham" lebih cenderung bermakna, bahwa Abraham sendiri yang menyetir.
Ya, Lukas, cuma kurang prefiks "mit" saja dan itu ternyata kata kerja trennbar "mitfahren". Tidak terlalu parah. Kamu hebat, berani mencoba membentuk kalimat dalam Bahasa Jerman.;-)


Saudara telah membaca teks ke 29.
Silakan baca teks 30: Apa Bahasa Jermannya?
Kembali ke teks 28: Guru Bahasa Jerman Privat - Guru Privat Bahasa Jerman

Saturday, 17 August 2013

Guru Bahasa Jerman Privat - Guru Privat Bahasa Jerman


Murid saya Aldo (baca: Gitar Alex) membutuhkan pernyataan saya untuk melengkapi berkas pendaftarannya ke Universitas Duisburg Essen, Jerman. Pada kop surat pernyataan tersebut saya menulis pekerjaan saya Privatdeutschlehrerin (guru Bahasa Jerman privat). Sepengetahuan saya kata majemuk / kompositum dapat dibentuk dari lebih dari 2 kata. Dalam kamus Jerman - Indonesia yang disusun Heuken saya hanya menemukan kata majemuk "Privatlehrerin" (guru privat) dan "Deutschlehrerin" (guru Bahasa Jerman). Tidak ada kata untuk guru privat Bahasa Jerman atau guru Bahasa Jerman privat.

Beberapa waktu kemudian saya ingin tahu apakah kata majemuk "Privatdeutschlehrerin" sebenarnya dipakai dalam kenyataannya. Seperti biasa saya bertanya pada teman-teman saya di Jerman. Saya anggap saja semua teman. :-)

Berikut komentar mereka:

Ilona di Bodelshausen
Menurut saya tentu saja top, bahwa kamu sekarang bekerja sebagai guru privat Bahasa Jerman (Privatlehrerin fuer Deutsch). (Kata "Privatlehrerin fuer Deutsch" barangkali lebih anggun daripada kata "Privatdeutschlehrerin"),...
Nicole di Hamburg
Soal pertanyaanmu: Saya cenderung menulis kata "Privatdeutschlehrerin": Privat-Deutschlehrerin, tapi menurut saya kata "private Deutschlehrerin" yang benar. "Privatdeutschlehrerin" tidak biasa digunakan, karena itu saya cenderung menyarankan kamu untuk menggunakan kata "private Deutschlehrerin" (guru Bahasa Jerman privat).
Bpk Seemann di Berlin
Jadi, sekarang saatnya memberi jawaban saya atas pertanyaan Anda. Yang benar ialah Privatlehrerin fuer Deutsch (guru privat Bahasa Jerman). ... semoga sebagai Privatlehrerin fuer Deutsch Anda mendapatkan permulaan yang baik dan sukses dan banyak peminat.

Begitulah, pembentukan kata majemuk walau secara gramatika mungkin, tetapi pada kenyataannya tidak selalu diakui. :-(

Saya masih melanjutkan diskusi dengan teman-teman, bagaimana dengan istilah "Deutschlehrerin fuer Privatstunde" atau "Deutschlehrerin fuer Privatunterricht". Berikut dua buah jawaban:

Ilona dan Ruprecht di Bodelshausen
Sekali lagi soal kursusmu: Mestinya saya juga mengusulkan "Private Deutschstunden*" (Les Bahasa Jerman privat); Ruprecht mengusulkan: "Privater Deutschunterricht" (von kompetenter (oder erfahrener) Deutschlehrerin) (Kursus Bahasa Jerman privat (dari guru Bahasa Jerman yang kompeten (atau berpengalaman) ). Saya pikir juga, kamu bisa menambahkan keterangan "von erfahrener Deutschlehrerin" (dari guru Bahasa Jerman yang berpengalaman) tanpa beban perasaan - memang kamu demikian. "Privatdeutschlehrerin" (guru Bahasa Jerman privat) dan "Deutschlehrerin fuer Privatstunde*" (guru Bahasa Jerman untuk les privat) (ambigu) tidak bisa. "Deutschlehrerin fuer Privatunterricht" (guru Bahasa Jerman untuk kursus privat) masih bisa, tapi kedengaran tidak terlalu anggun.
Nicole di Hamburg
Private Deutschlehrerin (guru Bahasa Jerman privat) merupakan istilah yang terbaik. Kata privat (sebagai adjektif) merujuk pada pekerjaanmu, yaitu bahwa kamu memang bekerja secara individual dan bukan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau karyawati. "Deutschlehrerin fuer Privatunterricht" juga bisa, tetapi cenderung tidak digunakan.
Oh, begitu. :-)

(* Stunde dalam Bahasa Indonesia berarti jam (menggambarkan lamanya sesuatu, 1 jam, 2 jam, dst), mungkin ini yang menyebabkan kata "Privatstunde" bisa ambigu. Privatstunde bisa berarti jam privat yang bermakna pertemuan privat.)

Saya masih bisa ingat, waktu itu Aldo dengan gembira cepat-cepat naik tangga menuju kamarnya di lantai 3. Sebelumnya ia keluar sebentar untuk mencetak surat pernyataan saya agar kemudian dapat saya tandatangani. Dengan demikian ia kemudian dapat menyerahkan berkas pendaftarannya dengan lengkap ke Universitas Duisburg Essen.

Kenyataan bahwa sekarang Aldo sudah kuliah di Universitas Duisburg Essen, itulah yang terpenting. :-)


Saudara telah membaca teks ke 28.
Silakan baca teks 29: Aku Nebeng Abraham
Kembali ke teks 27: Loh, Koq Akusatif Duluan, Sih?


 

Friday, 12 April 2013

Loh, Koq Akusatif Duluan, Sih?


Saya sudah belajar Bahasa Jerman sejak duduk di bangku SMA (SMA 78 Kemanggisan, Jakarta Barat). Saya masih ingat pada sebuah kalimat:
Ich gebe dem Kind eine Schokolade.
Kalimat tersebut digunakan Guru Bahasa Jerman kami untuk menunjukkan urutan kasus. Ada beberapa kata kerja yang memerlukan 2 objek (dulu istilahnya objek, tetapi sekarang lebih sering dipakai istilah Ergaenzung) dan objek-objek ini dikenakan kasus yang berbeda. Yang satu dikenakan kasus datif, yang lain mendapat kasus akusatif.

Dalam contoh kalimat di atas dem Kind mendapat kasus datif dan eine Schokolade dikenakan kasus akusatif. Karena kedua objek tersebut berupa kata benda, maka urutan kasusnya adalah: datif dahulu, baru akusatif.

Sekarang saya mengajar Bahasa Jerman dan menggunakan buku antara lain das studio d A1 Deutsch als Fremdsprache Kurs- und Uebungsbuch (Berlin: Cornelsen, 2006). Saya heran karena mendapatkan urutan yang terbalik: akusatif dahulu, baru datif. Banyak kalimat dengan urutan yang terbalik saya temukan di buku tersebut.

Beberapa contoh:
1. Koennen Sie die Saetze den Begriffen zuordnen?
2. Ordnen Sie die Bilder den Texten zu.
3. Ordnen Sie die Fotos den Namen zu.

Sesuai aturan tata bahasa seharusnya urutannya adalah:
1. Koennen Sie den Begriffen die Saetze zuordnen?
2. Ordnen Sie den Texten die Bilder zu.
3. Ordnen Sie den Namen die Fotos zu.

Lalu saya menanyakan hal ini kepada si penerbit.

Inilah jawaban dari seorang pakar yang telah berbaik hati menjawab pertanyaan saya:

Ibu Duden (bukan nama sebenarnya):

Anda benar, sesuai tata bahasa kata benda yang dikenakan kasus datif terletak di depan kata benda yang dikenakan kasus akusatif. Tetapi bisa dilakukan pengecualian, jika misalnya orang ingin menekankan atau menonjolkan sesuatu. Contoh: "Ordnen Sie die Gespraeche den Fotos zu." Di sini "Gespraeche" ditekankan. Jadi, susunan kalimat mengikuti penekanan tersebut.

Hmm, jadi karena penekanan. :-)


Saudara telah membaca teks ke 27.
Silakan baca teks 28: Guru Bahasa Jerman Privat - Guru Privat Bahasa Jerman
Kembali ke teks 26: Gitar Alex

Monday, 11 March 2013

Gitar Alex


Murid saya Aldo (baca Salju di Duisburg - Muelheim) dan saya sedang membahas Genitiv -s. Sesuai dengan ejaan baru Bahasa Jerman Genitiv -s kini harus ditulis menjadi satu dengan nama orangnya.

Ketika saya masih kuliah dulu, penulisan huruf "s" dilakukan setelah tanda baca apostrof. Saya langsung teringat pada nama yang berakhir dengan huruf x atau s. Bagaimana penulisan Genitiv -s nya, apakah tetap disambung dengan nama orangnya? Sayang, tidak ada contoh maupun penjelasan lebih lanjut dalam buku studio d A2 Deutsch als Fremdsprache Kurs- und Uebungsbuch (Berlin: Cornelsen, 2007/06).

Hanya inilah contoh yang diberikan buku tersebut:
1. Das ist die aelteste Tochter von Petra. Ach so, das ist Petras aelteste Tochter.
2. Das sind die Kinder von Nadine. Ach so, das sind Nadines Kinder.
3. Das ist die Tochter von Susanne. Ach so, das ist Susannes Tochter.
4. Das ist die Frau von Jan. Ach so, das ist Jans Frau.

"Waduh, bisa "bahaya" nih kalau Aldo tanya tentang itu, karena ini berhubungan dengan dia :-)", begitulah yang saya pikirkan. Kemudian saya berpikir lagi, bahwa sebaiknya langsung saja saya singgung tentang ini sebelum dia bertanya. Jadi, saya katakan pada Aldo, bahwa saya masih harus mencari tahu, bagaimana penulisan Genitiv -s pada nama yang berakhir dengan huruf x atau s. Saya berjanji akan menjelaskan padanya di kemudian hari.

Saya konsultasi pada teman-teman saya di Jerman. :-) (Mereka semua saya anggap teman :-) )

Ibu Engelhardt di Karlsruhe:

Pembentukan genitif pada nama orang: Alex' Gitarre, Klaus' Zimmer. Anda juga bisa berkata: Alexens Gitarre, Klausens Zimmer. Klauss Zimmer tidak mungkin.

Ulli di Hamburg:

Kamu sudah menulis solusi yang tepat: pakai tanda baca apostrof saja. Jadi: Alex' s Gitarre, Dennis' s Motorrad.

Seperti yang sudah saya janjikan saya telah menjelaskan hal ini pada Aldo.

Ya, ampun, saya baru teringat pada nama-nama Jerman Heinz dan Franz saat menulis ulasan ini. Bagaimana penulisan Genitiv -s pada nama tersebut? Tidak ada waktu lagi untuk bertanya pada teman-teman Jerman. :-( Saya rasa aturan tata bahasanya sama dengan aturan untuk nama yang berakhir dengan huruf x atau s. Jadi: Heinz' s Mutter, Franz' s Fahrrad. ;-)


Saudara telah membaca teks ke 26.
Silakan baca teks 27: Loh, Koq Akusatif Duluan, Sih?
Kembali ke teks 25: Jus Jeruk Dua, Ya.

Wednesday, 27 February 2013

Jus Jeruk Dua, Ya.


Dalam buku studio d A1 Deutsch als Fremdsprache Kurs- und Uebungsbuch (Berlin: Cornelsen Verlag, 2006) terdapat dialog yang berisi kalimat yang membingungkan. Mengapa? Karena di dalam kalimat tersebut ada kata benda yang seharusnya berbentuk jamak atau plural, tetapi ternyata tetap berbentuk tunggal atau singular.

Berikut beberapa contoh kalimatnya:
Zwei Orangensaft, bitte.
Also drei Eistee.
Zwei Cola.

Angka dua dan tiga menunjukkan bentuk jamak, tetapi mengapa kata benda yang mengikutinya tidak dibentuk jamak? Kata-kata benda tersebut seharusnya: 2 Orangensaefte, 3 Eistees dan 2 Colas.

Saya telah menanyakan tentang hal ini kepada teman-teman saya di Jerman. (Semua saya anggap teman :-) ) Saya ingin tahu pendapat mereka.

Ibu Engelhardt di Karlsruhe:

Tidak ada alasan yang logis untuk itu, sudah ternaturalisasi / melebur begitu saja. Hanya tidak biasa saja, jika orang berkata: "2 Orangensaefte, 3 Eistees, 2 Colas".

Ulli di Hamburg:

Harusnya benar yang kamu tulis: 2 Orangensaefte, 3 Eistees, 2 Colas. Yang terdapat di buku jelas penggunaan bahasa sehari-hari (yang tidak tepat). Walau secara gramatika tidak tepat, tetapi kenyataannya penggunaannya demikian. Contoh yang ekstrim "4 Currywurst Pommes!". Inilah bahasa orang-orang yang sangat sederhana. :-)

Lah, kalau memang sesederhana itu, alangkah baiknya jika para penguji di lembaga bahasa yang berhak mengeluarkan sertifikat bahasa yang sah, tidak menjatuhkan murid-murid saya dalam ujian. Ternyata sekarang sama saja: Zwei Orangensaft - Zwei Orangensaefte, Drei Eistee - Drei Eistees, Zwei Cola - Zwei Colas.

Jangan sampai murid-murid saya tidak lulus ujian dan akhirnya tidak mendapat sertifikat bahasa hanya karena kasus ini. Tidak adil, dong.


Saudara telah membaca teks ke 25.
Silakan baca teks 26: Gitar Alex

Tuesday, 22 January 2013

Bah, Tak Ada Bentuk Jamaknya Rupanya?


Penting sekali untuk memeriksa sebuah kamus Bahasa Jerman apakah tersedia informasi tentang jenis kata benda di dalamnya. Murid saya Dea (baca Ya, Ampun, Aku Membeli Kamus yang Tidak Berguna) memiliki pengalaman buruk ketika ia membeli kamus Jerman - Indonesia di sebuah toko buku. Kamus tersebut tidak mencantumkan jenis kata benda. Oleh karenanya kamus itu menjadi tidak berguna.

Tetapi sekalipun kamus sudah lengkap dengan informasi jenis kata benda, akan membingungkan juga, jika kamus yang satu memberi informasi yang berbeda dari kamus yang lainnya. Menurut buku Mit Erfolg zu Start Deutsch, Uebungsbuch A1 + A2 (Stuttgart: Klett, 2008) kata-kata benda berikut ini tidak mempunyai bentuk jamak / plural:
die Butter, das Obst, das Wasser, das Geld, die Waesche, das Wetter, die Gesundheit, das Gemuese.

Lalu saya cek kebenarannya. Menurut kamus "Deutsch - Indonesisches Woerterbuch" yang disusun oleh Adolf Heuken (Jakarta: Gramedia, 1987) ternyata kata benda berikut mempunyai bentuk jamak: das Gemuese - die Gemuese, das Geld - die Gelder.

Selanjutnya, menarik sekali hasil temuan saya dalam kamus "Woerterbuch der deutschen Sprache" yang disusun  oleh Gerhard Wahrig (Muenchen: dtv, 1987): lebih banyak kata yang memiliki bentuk jamak: das Wasser - die Wasser atau die Waesser, das Geld - die Gelder, die Waesche - die Waeschen, das Wetter - die Wetter, die Gesundheit - die Gesundheiten, das Gemuese - die Gemuese.

Wednesday, 19 December 2012

"durch", "ueber". Aduh, Yang Mana, Nih?


Lagi-lagi preposisi membuat masalah. Murid saya Rebecca sering mengeluh tentang preposisi (baca: "ueber", "an...vorbei". Aduh Yang Mana, Nih?). Sayangnya tidak ada penjelasan dalam buku pelajaran studio d A1, Unit 8, Bab 3; kapan "durch" digunakan, kapan "ueber" digunakan. Dalam buku itu hanya ada contoh kalimat yang menunjukkan bahwa kedua preposisi tersebut mendapat kasus akusatif.

Preposisi "durch" dan "ueber" dapat memiliki makna yang sama dalam Bahasa Indonesia. Sulit bagi murid untuk menentukan preposisi yang tepat.

Berikut kalimat-kalimatnya:

Die Touristen laufen durch den Park.
Die Touristen laufen durch das Stadttor.
Die Touristen laufen durch die Fussgaengerzone

Die Touristen gehen ueber den Marktplatz.
Die Touristen gehen ueber das Messegelaende.
Die Touristen gehen ueber die Schlossbruecke.

Dalam Bahasa Indonesia kedua preposisi di atas dapat diterjemahkan hanya dengan satu kata yaitu "lewat",  maka kalimat-kalimatnya dalam Bahasa Indonesia menjadi:

A. Preposisi "durch"
Turis berjalan lewat taman.
Turis berjalan lewat gerbang kota.
Turis berjalan lewat daerah bebas mobil.

B. Preposisi "ueber"
Turis berjalan lewat kawasan pasar.
Turis berjalan lewat arena pekan raya.
Turis berjalan lewat jembatan puri/istana

Gehen artinya antara lain berjalan kaki. Laufen dapat berarti berlari, jalan cepat. Dalam arti kiasan bisa juga berjalan.

Apabila preposisi "durch" dan "ueber" dalam kalimat-kalimat di atas dihilangkan dan seorang murid Indonesia seperti Rebecca diminta melengkapi kalimat tersebut dengan preposisi "durch" atau "ueber", maka kemungkinan ia akan mengalami kesulitan.